Makalah
Teknik / Metode Pembelajaran Akidah Akhlak
![]() |
Disusun oleh :
Nafingatur Rizki
Tarbiyah / Pai
Semester V (Lima)
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM MIFTAHUL HUDA AL-AZHAR
( STAIMA KOTA
BANJAR )
Alamat
Jl. Pesantren No. 02 Citangkolo Desa Kujangsari Kecamatan Langensari Kota
Banjar 46324 Telp (0265) 2730487.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah
Swt atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Tak lupa kami haturkan shalawat dan salam
kepada junjungan Nabiyullah Muhammad Saw.
Makalah yang berjudul “ Metode Pembelajaran Akidah
Akhlak” ini bertujuan untuk memenuhi tugas perkuliahan Metodologi Pembelajaran
Agama Islam pada jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAMMIFTAHUL HUDA AL-AZHAR
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan
terima kasih kepada pihak–pihak yang telah berperan dan membantu menyelesaikan
makalah ini. Diantaranya:
1. Kepada Orang Tua yang telah memberikan doa, bantuan, dan
dorongan baik yang bersifat materil maupun non materil
2. Kepada teman-teman anggota kelompok 3 yang tidak dapat
disebutkan satu persatu, kami ucapkan terima kasih banyak. Semoga semua bantuan
yang diberikan mendapat pahala disisi Allah Swt.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan kesempurnaan.
BANJAR , 30 DESEMBER 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR……………….…………………………………… i
DAFTAR
ISI …………………………………………………….. ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang …………………………………………… 1
B. Rumusan
Masalah …………………………………………… 2
C. Tujuan Penulisan ………………………………………….... 2
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Akidah ……………………................................... 3
1. Sumber-sumber
Akidah……………………………….…....... 4
2. Metode Mengajarkan Akidah
………………………...…..…… 4
B. Pengertian Akhlak
………………………………………………... 7
1. Tujuan Mempelajari Akhlak
…………………………………. 7
2. Ciri-ciri Akhlak
………………………………………….….. 8
3. Metode Pembelajaran Akhlak
…………………………………. 9
BAB III : PENUTUP
Simpulan ................................................................................ 11
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pembelajaran yang utama untuk
membekali Siswa adalah dengan kemampuan. Atas dasar ini diperlukan metode
pembelajaran yang sesuai pada setiap pokok bahasan. Yang lebih penting lagi
adalah agar Siswa dalam proses pembelajaran Agama Islam terutama mata pelajaran
Aqidah Akhlak dapat merasa asyik, senang, dan menikmatinya.[1]
Dalam proses belajar mengajar sebagai seorang
guru khususnya Aqidah Akhlak dalam mendidik siswanya agar mencapai tujuan yang
diharapkan tidaklah mudah. Oleh karena itu, guru dituntut bisa mencari metode
belajar aktif yakni sebuah kesatuan sumber pembelajaran yang komprehensif.
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan
perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM)
bergantung pada cara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut
siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang
diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada
siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya.[2]
Dalam
pengertian lain, metode pembelajran merupakan
cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa
untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatan mengajar makin tepat metode yang
digunakan maka makin efektif dan efisien kegiatan belajar mengajar yang
dilakukan guru dan siswa pada akhirnya akan menunjang dan mengantarkan
keberhasilan belajar siswa dan keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru.[3] Oleh karena itu, guru harus memilih metode
pembelajaran yang tepat dalam mengajar terutama dalam menyampaikan materi mata
pelajaran Akidah Akhlak agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan bahwa “
Metode apa yang digunakan dalam pembelajaran Akidah Akhlak”?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan makalah
ini adalah untuk mengetahui Metode Pembelajaran Akidah Akhlak.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Akidah
Secara
bahasa aqidah berasal dari kata berarti ikatan dua utas tali dalam satu buku
sehingga menjadi tersambung. Sehinggga aqidah menurut “ikatan” atau kata aqad juga berarti janji, kesepakatan 2 orang
yang mengadakan perjanjian.
Sedangkan
menurut istilah aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan
diterima dengan rsa puas tertanam kuat dalam benak jiwa yang tidak dapat
diguncangkan oleh keraguan. Secara harfiah Islam berarti berserah diri atau
selamat. Artinya terserah diri untuk patuh dan taat kepada segala aturan Allah
(melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya).
Ada
banyak keyakinan (agama) yang dianut manusia. Adapun hanya satu, Islamlah agama
yang pantas dijadikan pedoman/peraturan dasar kehidupan kita, sebagaimana
firman Allah QS. Ali Imran: 19
¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$# 3 ….
Artinya: “Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran: 19)
Pada
ayat ini Allah menerangkan agamanya yang diakui-Nya di sisi-Nya adalah Islam,
yaitu agama tauhid, agama yang menegaskan Allah Swt. Esa pada Dzat-Nya,
sifat-Nya dan afal-Nya (segala perbuatan-Nya). Sebagaimana agama yang dibawa
para nabi terdahulu intinya adalah satu ialah Islam. Aqidah Islamiyah selalu berkaitan dengan Iman,
seperti: Iman
kepada Allah SWT, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, Hari
Akhir (Hari kiamat-Pembalasan).
1. Dengan pendekatan dogmatis yaitu
pendekatan berdasarkan dogma yaitu sesuatu yang harus diterima dengan yakin
sebagai suatu kebenaran.
2. Pendekatan normatif yaitu pendekatan
berdasarkan norma yaitu ukuran atau ketentuan berlaku.
3. Penndekatan rasional yaitu pendekatan
dengan akal pikiran yang dapat diterimanya.
4. Pendekatan praktis atau keteladanan
ialah pendekatan berdasarkan kenyataan dalam praktik yang dapat diteladani.
2. Sumber-sumber Aqidah
Apabila
diperhatikan dengan seksama bahwa sumber atau dasar akidah berupa Al-Qur’an dan
dan As-Sunnah dan selain itu adalah fitrah tauhid yang dimiliki setiap manusia
karena hidayah taufiqiyah dari Allah Swt, melalui akal pikirannya akan
menyadari bahwa dirinya itu makhluk dan dan hamba Allah Swt dan manusia denganqalb lebih dalam lagi seperti kaum sufi
dalammeletakkan landasan Agidahnya.[5]
3. Metode Mengajarkan Akidah
Setiap
pengajaran diperlukan metode-metode agar tujuan pendidikan dapat dicapai dengan
baik. Dalam hal ini metode pengajaran aqidah akhlak kami bagi menjadi dua
bagian. Metode pengajaran akidah itu banyak, antara lain :
ü Metode ceramah
ü Metode cerita
ü Metode tanya jawab
ü Metode widya wisata
ü Metode bermain peran
ü Metode demonstrasi
ü Metode latihan sosio drama
ü Metode diskusi
Metode-metode
tersebut yang paling banyak dipakai dalam pengajaran akidah antara lain, metode
cerita, ceramah, dan tanya jawab, disamping metode sosio drama, demonstrasi,
dan metode bermain peran.
a) Metode bercerita dicantumkan sebagai
alternative pada hampir semua pokok bahasan, karena selain aspek kognitif
tujuan bidang studi ini adalah aspek afektif yang secara garis besar berupa
tertanamnya akidah islam dan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari yang
memiliki nilai-nilai akhlak yang mulia. Seperti contoh: kisah Luqman al Hakim
dengan putranya, dimana seorang ayah mengajarkan akidah kepada putranya dengan
bersyukur kepada Allah Swt, jangan syirik (menyekutukan) Allah Swt dan
bersyukur kepada ayah dan ibu dengan berbakti atau tawadlu’ kepada kedua orang
tuanya.
b) Metode ceramah adalah metode
pembelajaran yang dilakukan dengan menyampaikan pesan dan informasi secara satu
arah lewat suara yang diterima melalui indera telinga.[6]Metode ceramah disebut metode mau’idhoh hasanah dengan
bilisan agar dapat menerima nasihat-nasihat atau pendidikan yang baik. Sepeerti
yang dilakukan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya, yaitu untuk beriman kepada
Allah Swt dan Rasulullah Saw.
Metode
Tanya jawab bertujuan agar anak didik memiliki kemampuan berfikir dan dapat
mengembangkan pengetahuan yang berpangkal pada kecerdasan otak dan
intelektualitas. Ini merupakan tujuan dalam aspek kognitif. Didalam pengajaran
aqidah dapat dicontohkan, seperti: dialog atau tanya jawab antara Nabi Ibrahin
as dengan umatnya. Dengan cara seperti itu akan menghasilkan nilai-nilai yang
berhubungan tingkah laku. Dengan partisifasi aktif seseorang akan dapat menilai
yang baik dan yang buruk dan kemudian dapat mengambil manfaat didalam kehidupan
sehari-hari yang dapat mendatangkan kebaikan atau kebahagiaan.
Penggunaan
Tanya jawab bertujuan mengetahui sejauhmana tingkat pemahaman siswa terhadap
materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru. Selain itu dengan adanya
tanya jawab tersebut akan merangsang siswa untuk berfikir dan diberi kesempatan
untuk mengajukan masalah yang belum dipahami.
Metode
Tanya jawab atau dialogis ini, mencerminkan dan melahirkan sikap saling
keterbukaan antara guru dan siswa dalam penerapan metode ini pikiran, kemauan,
perasaan dan ingatan serta pengamatan terbuka terhadap ide – ide baru yang
ditimbulkan dalam pembelajaran tersebut.[7]
c) Metode sosiodrama, digunakan dalam
pokok bahasan:
- Adat
disekolah, mengujungi orang sakit, ta’ziyah dan jiarah kubur.
- Kisah siti Mashitoh, Abu bakar Assidiq,
Umar bin khatab, Bilal bin Rabbah
dan lain sebagainya.
e)
Metode demonstrasi adalah penyajian bahan pelajaran oleh guru atau instruktur
kepada siswa dengan menunjukkan urutan prosedur pembuatan sesuatu untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Metode demonstrasi dipergunakan dalam pokok
bahasan:
- Sifat-sifat Allah dan sifat-sifat
Rasulullah.
-
Akhlak terpuji, akhlak tercela dan sebagainya.
f) Metode
bermain peran, dipergunakan dalam pokok bahasan
- Berbakti kepada ayah dan ibu.
- Adab
makan dan minum.
- Adab kepada guru, orang yang tua,
teman dan sebagainya.
B. Pengertian Akhlak
1. Pengertian Akhlak
Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun, خُلُقٌ yang menurut bahasa berarti budi
pekerti, perangai, tingkah
laku atau tabiat.
Kata
tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun خَلْقٌ yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan خَالِقyang berarti pencipta, demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai adanya
hubungan baik antara Khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk.[8]
Menurut Barmawi Umary (1984) bahwa tujuan
pengajaran akhlak secara umum meliputi:
a. Supaya dapat terbiasa melakukan yang
baik, indah, mulia, terpuji serta menghindari yang buruk, jelek, hina, tercela.
b. Supaya perhubungan kita dengan Allah
SWT dan sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.
Sedangkan menurut Prof. DR. Hamka (1976)
mengungkapkan bahwa yang menjadi tujuan dalam pengajaran akhlak adalah ingin
mencapai setinggi-tinggi budi pekerti dan akhlak. Menurut Ali Hasan 1988 bahwa
tujuan pokok akhlak agar setiap orang berbudi (berakhlak), bertingkah laku
(tabiat), berangai atau beristiadat yang baik/yang sesuai dengan ajaran Islam.[9]
3. Ciri-ciri Akhlak
Adapun cirri-ciri akhlak menurut H.A, Mustofa antara lain
:[10]
a. Kebajikan yang mutlak
Islam menjamin kebaikan mutlak karena telah menciptkan
akhlak yang luhur. Ia menjamin kebaikan yang murni baik untuk perorangan atau
masyarakat pada setiap keadaan dan waktu.
b. Kebajikan yang menyeluruh
Akhlak Islam menjamin kebaikan untuk seluruh umat
manusia, tidak mengandung kesulitan dan memberatkan Islam menciptakan akhlak
yang mulia sehingga dapat dirasakan sesuai dengan jiwa manusia dan dapat
diterima akal yang sehat.
c. Kemantapan
Akhlak islam bersifat tetap, langsung dan mantap sebab
Allah selalu memeliharanya dengan kebaikan yang mutlak
d. Kewajiban yang dipatuhi
Akhlak islam wajib ditaati manusia, karena mempunyai daya
kekuatan yang tinggi, menguasai lahir batin dan sebagai perangsang untuk
berbuat kebaikan yang diiringi dengan pahala dan mencegah perbuatan jahat
karena takut akan siksaan Allah Swt.
e. Pengawasan yang menyeluruh
Agama islam adalah pengawas hati nurani dan akal sehat.
Segala perbuatan dan tingkah laku manusia harus sesuai dengan ajaran akhlak
islam.
4. Metode Pembelajaran Akhlak
Adapun menurut Prof. Dr. Hamka metode pengajaran akhlak
ialah:[11]
a. Metode alami
Metode alami ini adalah suatu metode
dimana akhlak yang baik diperoleh bukan melalui didikan, pengalaman, atau
latihan, tetapi diperoleh melalui instink atau naluri yang dimilikinya secara
alami. Meskipun demikian metode ini tidak dapat diharapkan secara pasti tanpa
adanya metode atau faktor lain yang mendukung seperti pendidikan, pengalaman,
latihan dan lain sebagainya. Tetapi, paling tidak metode alam ini jika dipelihara
dan dipertahankan akan melakukan akhlak yang baik sesuai fitroh dan suara hati
manusia. Metode ini cukup efektif untuk menanamkan kebaikan kepada anak karena
pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk berbuat kabaikan tinggal
bagaimana memelihara dan menjaganya.
b. Metode mujahadah dan riadhoh.
Orang yang ingin dirinya jadi
penyantun maka jalannya dengan membiasakan bersedekah sehingga menjadi tabiat
yang mudah mengerjakannya dan tidak merasa berat lagi. Mujahadah atau
perjuangan yang dilakukan guru menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baik memang
pada awalnya cukup berat, namun apabila manusia berniat sungguh-sungguh pasti
menjadi suatu kebiasaan. Metode ini sangat tepat untuk mengajarkan tingkah laku
dan berbuat baik lainnya, agar anak didik mempunyai kebiasaan berbuat baik
sehingga menjadi akhlak baginya, walaupun dengan usaha yang keras dan melalui
perjuangan dan usaha yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, guru harus
memberikan bimbingan yang continu kepada anak didiknya, agar tujuan pengajaran
akhlak ini dapat tercapai secara optimal dengan melaksanakan program-program
pengajaran yang telah ditetapkan.
c. Metode teladan.
Metode teladan yaitu mengambil contoh atau meniru orang
yang dekat dengannya. Oleh karena itu, dianjurkan untuk bergaul dengan
orang-orang yang berbudi baik. Pergaulan sebagai salah satu bentuk komunikasi
manusia, memang sangat berpengaruh dan akan memberikan pengalaman-pengalaman
yang bermacam-macam. Metode teladan ini memberikan kesan atau pengaruh atas
tingkah laku perbuatan manusia. Sebagaimana dikatakan Hamka (1984) bahwa: “alat
dakwah yang sangat utama adalah akhlaki”. Budi yang nyata dapat dilihat
pada tingkah laku sehari-hari. Maka, meneladani Nabi adalah cita-cita tertinggi
dalam kehidupan Muslim. Metode ini sangat efektif untuk mengajarkan akhlak,
maka seyogyanya guru menjadi ikutan utama bagi murid-murid dalam segala hal.
Misalnya, kelembutan dan kasih saying, banyak senyum dan ceria, lemah lembut
dalam bertutur kata, disiplin ibadah dan menghias diri dengan tingkah laku
sesuai misi yang diembannya. Jadi, metode
ini harus diterapkan seorang guru jika tujuan pengajaran hendak dicapai. Tanpa
guru yang memberi contoh, tujuan pengajaran sangat sulit dicapai.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan
diatas maka dapat disimpulkan bahwa metodologi pembelajaran Akidah Akhlak
merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus diketahui dan dikuasai oleh
seorang guru. Letak keberhasilan dari proses belajar mengajar berada pada
seorang guru yang kreatif dan berkualitas menggunakan metode pembelajaran
yang direncanakan. Dalam memilih metode pembelajaran Akidah Akhlak haruslah
sesuai kebutuhan peserta didik sehingga dapat memahami bidang studi Akidah
Akhlak. Adapun metode pembelajaran Akidah Akhlak antara lain m
1. Metode alami ini adalah suatu metode
dimana akhlak yang baik diperoleh bukan melalui didikan, pengalaman, atau
latihan, tetapi diperoleh melalui instink atau naluri yang dimilikinya secara
alami.
2. Metode Mujahadah adalah metode ini
sangat tepat untuk mengajarkan tingkah laku dan berbuat baik lainnya, agar anak
didik mempunyai kebiasaan berbuat baik sehingga menjadi akhlak baginya,
walaupun dengan usaha yang keras dan melalui perjuangan dan usaha yang sungguh-sungguh.
3. Metode teladan yaitu mengambil contoh
atau meniru orang yang dekat dengannya. Oleh karena itu, dianjurkan untuk
bergaul dengan orang-orang yang berbudi baik.
DAFTAR PUSTAKA
Musyrifah. Skripsi “ Metode Pembelajaran
Akidah Akhlak di MTsn
Wonnokromo Bantul Yogyakarta”. 2008
Sutrisno. “Revolusi Pendidikan Islam di
Indonesia”. Jogyakarta: Ar-Ruz Media,2005.
Zuhri Saifuddin, Syamsuddin
Yahya “Metodologi
Pengajaran Agama ”. Semarang:Pustaka Pelajar. 1999
file:///UsersHPDownloads, Muhammah Ali Sunan, Metodologi Pembelajaran Aqidah,
Kajian Iman kepada Nabi.htm diunduh pada 13 November 2014
